‎Jadi Kepala BGN, Sudaryono Langsung Peringati Publik

Nasional - Rabu, 22 Juli 2026

260722200546-‎ja.jpg

Sudaryono menjadi kepala BGN

Bedahjabar.com [ Jakarta ] - Di hadapan kamera puluhan jurnalis yang memenuhi Istana Negara Sudaryono baru saja selesai mengucapkan sumpah jabatan sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) ( Rabu, 22/07/26 ).

Tapi pidato pertamanya bukan tentang rencana kerja atau visi besar. Ia justri memulai dengan sebuah peringatan keras.

"Kalau nantinya ada orang menawarkan jasa barangkali dengan imbalan, mengaku orang saya, keluarga saya, sahabat saya, teman saya, alumni bersama saya, dan lain-lain yang dirasa tidak sesuai, saya pastikan itu tidak benar. Saya minta kepada yang bersangkutan dilaporkan kepada pihak yang berwajib."

Peringatan itu bukan retorika basa-basi. Sudaryono berbicara dalam bayang-bayang skandal yang masih panas pendahulunya, Dadan Hindayana, ditetapkan sebagai tersangka korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Kejaksaan Agung pada 3 Juni 2026, bersama dua mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.

Ketiganya ditahan di Rutan Salemba dan dijerat pasal korupsi karena anggaran program MBG diduga dikelola melalui yayasan yang terafiliasi dengan mereka sendiri.

Dalam konteks itulah kalimat-kalimat Sudaryono menjadi jauh lebih berat maknanya dari sekadar formalitas pelantikan.

Pelantikan Sudaryono dilakukan Presiden Prabowo Subianto berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional, untuk mengisi sisa masa jabatan 2024/2029.

Ia menggantikan Nanik S. Deyang yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan, setelah harus menjalani pengobatan jantung di luar negeri. Penunjukan ini sekaligus membuat Sudaryono harus melepas jabatannya sebagai Wakil Menteri Pertanian.

Dalam hitungan jam sejak pengumuman resmi, ia sudah berdiri di podium Istana, bersumpah di hadapan Presiden.

Hal pertama yang disampaikan Sudaryono usai pelantikan bukan soal menu atau anggaran melainkan deklarasi bersih.

Ia menegaskan dirinya dan keluarganya tidak memiliki maupun mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum Makan Bergizi Gratis.

SPPG adalah unit dapur yang menerima insentif dari pemerintah untuk memasak dan mendistribusikan makanan bergizi ke sekolah-sekolah dan posyandu di seluruh Indonesia.

"Enggak ada dan saya tidak punya SPPG, saya tidak punya dapur. Tidak ada keluarga saya yang punya dapur dan sebagainya," ucapnya tegas di Istana Negara.

Ia juga menyinggung soal transparansi sebagai prinsip kerja yang tidak bisa ditawar.

"Saya ingin penyelesaian masalah, penyelesaian persoalan, follow up, dan lain-lain dilaksanakan sesuai mekanisme sistem. Kita bukan lagi trust in person, kemudian kita bicara di ruang-ruang yang remang-remang, yang gelap, di private room, di restoran, tapi segala sesuatu harus dibahas di ruang-ruang yang terang dan transparan dan dilihat orang," jelasnya.

Sudaryono juga mengakui masih ada masalah serius dalam pelaksanaan MBG, termasuk yang sudah terlihat dalam kasus dugaan korupsi yang menjerat Dadan Hindayana dan beberapa mantan petinggi BGN lainnya.

"Kita sendiri telah menyaksikan bahwa ada pelanggaran dari sisi tata kelola yang tidak transparan," ucapnya.

Ia menegaskan komitmennya untuk tidak menoleransi praktik korupsi.

"Doakan kami semua untuk bisa amanah dan menjalankan program ini dengan sebaik-baiknya, zero toleransi untuk praktik-praktik korupsi dan hengki-pengki dan copet-copetan sebagaimana barangkali ini yang paling dibenci oleh seluruh rakyat Indonesia."

Tidak berhenti di Istana, usai acara pelantikan, Sudaryono langsung bergegas menuju Kantor BGN di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, untuk memimpin rapat bersama jajaran lembaga.

"Saya kira press conference cukup ya, saya langsung kerja, saya datang ke kantor langsung rapat," katanya sesampai di kantor.

Program Makan Bergizi Gratis adalah salah satu prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo. Anggaran program ini mencapai Rp85,20 triliun pada 2025 dan naik menjadi Rp268 triliun pada 2026, bersumber dari APBN.

Dengan skala sebesar itu, godaan penyelewengan jelas bukan sekadar ancaman hipotetis, ia sudah terbukti nyata.

Kini giliran Sudaryono yang memegang kendali. Kata-katanya pada hari pertama menjabat akan diuji oleh waktu apakah ia mampu mengubah lembaga yang baru saja tersandung skandal besar menjadi mesin distribusi gizi yang bersih, akuntabel, dan benar-benar menjangkau anak-anak Indonesia yang membutuhkannya.

Penulis/Pewarta: Aren
Editor: Aren
©BEDAHJABAR.COM 2026